Dari The New Seven Wonders hingga Tour de Flores II

Opini

Oleh: Wilson Boimau (ASN pada Biro Humas Setda NTT)

Ist

Ist

SUATU perjuangan yang spektakuler dirintis pemerintah dan masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) dalam membangun sektor pariwisata, menunjukan taFnda-tanda kemajuan. Tekad pemerintah dalam kepemimpinan Gubernur Frans Lebu Raya untuk menjadikan NTT sebagai provinsi pariwisata, terwujudlah.

Fakta menunjukan sejak Taman Nasional Komodo, di Labuan Bajo, ditetapkan sebagai salah satu dari tujuh keajaiban dunia dan diawali dengan event berskala internasional Sail Komodo 2013, mulai saat itu pariwisata NTT dilirik terutama oleh wisatawan domestik dan mancanegara. Lewat sail komodo itulah pemerintah pusat secara serius menaruh perhatian penuh dan pada tahun 2015 menetapkan Taman Nasional Komodo, di kabupaten Manggarai Barat sebagai Kawasan strategis pariwisata nasional (KSPN). Salah satu destinasi wisata yang menjadi prioritas pemerintah sebagai 10 destinasi wisata Bali Baru dan menjadi “the best top ten destination in the world” (10 destinasi terbaik di dunia) dari 100 destinasi terbaik yang ada di dunia.

Taman Nasional Komodo yang menjadi satu-satunya habitat utama binatang purbakala itu ditetapkan oleh United Nations Educational Scientific and Cultural Organization (UNESCO – Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan PBB) pada tahun 1991 sebagai warisan alam dunia. Dengan demikian Taman Nasional Komodo juga menjadi The New Seven Wonders of Nation yang juga ditetapkan oleh New Seven Wonders Foundation pada tahun 2012 lalu.

Capaian dalam sektor pariwisata dalam dua periode kepemimpinan Gubernur Frans Lebu Raya bersama Wakil Gubernur Esthon Foenay dan Benny Litelnoni serta mendapat dukungan penuh dari Kementerian Pariwisata, jangan dianggap telah selesai tetapi perlu terus dikerjakan dan diperjuangkan kedepan dalam masa kepemimpinan berikutnya bagi percepatan pembangunan dan tercipta pertumbuhan ekonomi yang mapan bagi kesejahteraan seluruh rakyat NTT.

Penetapan Labuan Bajo menjadi sasaran pengembangan KSPN, mengingat Labuan Bajo sebagai pintu masuk pariwista di NTT perlu mendapat dukungan dari berbagai pihak. Sedangkan bagi pemprov NTT sendiri saat penetapan KSPN, diserukan untuk menyusun rencana induk pengembangan pariwisata (RIPP) dan rencana pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD). Dengan begitu, sesuai prinsip pengembangan kepariwisataan maka seluruh obyek wisata, diantaranya wisata budaya yang terdapat di provinsi NTT termasuk produk kreatif harus ditata dan dikemas sehingga dapat menarik wisatawan domestik maupun mancanegara. Mengingat, Taman Nasional Komodo menjadi salah satu dari 88 KSPN yang ada di Indonesia dan ditetapkan masuk dalam 10 destinasi wisata prioritas atau 10 Bali Baru.

Kesepuluh destinasi wisata prioritas itu, Danau Toba (Sumatera Utara), Tanjung Kelayang (Bangka Belitung), Tanjung Lesung (Banten), kepulauan Seribu (DKI Jakarta), Candi Borobudur (Jawa Tengah), Gunung Bromo (Jawa Timur), mandalika, (Lombok – NTB), Taman Nasional Wakatobi (Sulawesi Tenggara), Morotai (Maluku Utara) dan Labuan Bajo di provinsi Nusa Tenggara Timur.

Event tahunan

Di provinsi NTT terdapat berbagai daerah tujuan wisata (destinasi) yang menarik minat wisatawan domestik maupun mancanegara. Sesuai data, kunjungan wisatawan ke NTT terus meningkat setiap tahun. Sejak tahun 2012 jumlah kunjungan wisatawan tercatat 47.000 orang dan meningkat menjadi 66.000 orang (2014). Sedangkan pada tahun 2016 terjadi peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara secara signifikan sebanyak 140.000 orang dan wisatawan domestik 800.000 orang. Hal ini menunjukan adanya event pariwisata yang mampu menarik minat wisatawan berkunjung ke NTT.

Seiring dengan itu, Gubernur Frans Lebu Raya, ketika membuka parade 1001 kuda sandalwood dan festival tenun ikat tradisional sumba, di Waingapu, Senin (3/7), meminta seluruh jajaran pemerintah kabupaten yang ada di tiga pulai besar ( Sumba, Flores dan Timor) untuk dapat menggelar event berskala nasional dan internasional setiap tahun.

Terdapat sejumlah daerah tujuan wisata di NTT yang menjadi destinasi unggulan dan dikunjungi para wisatawan, yaitu di Manggarai Barat, selain Taman Nasional Komodo, terdapat destinasi lainnya, seperti Gua Cermin, Pantai Pink dan Pulau Badar dengan perairan yang baik untuk snoorkeling dan diving serta kampung tradisional Todo, Wai Rebo, sawah jaring laba-laba di Kancar (Manggarai). Danau Renamese dan Pantai Cepi Watu (Manggarai Timur). Kampung tradisional Bena dan 17 pulau di Riung (Ngada) dan di Ende dengan obyek wisata Danau Kelimutu, situs Bung Karno. Gereja tua peninggalan Bangsa Portugis di Maumere, Taman Laut Teluk Maumere (under water) juga di Larantuka ada prosesi Samana Santha, penangkapan tradisional ikan paus, dan di Lembata terdapat gunung api meletus setiap 20 menit, di Alor dengan Pulau Kepa adanya taman laut yang indah. Kabupateb Rote Ndao terdapat obyek wisata Pantai Nemrala dan musik tradisional Sasando, serta kampung adat si Sabu Raijua. Di Pulu Sumba dengan Megalitik, parade Kuda Sandalwood, Pasola, Nihiiwatu, Tenun tradisional dan di kabupaten TTS dengan pasir warna di Pantai Kolbano, kampung tradisional Boti.

Semua potensi sektor pariwisata ini dapat diketahui dan dikenal hanya dengan cara mempromosi. Tanpa promosi maka para wisatawan tidak akan mengetahui. Sehingga diperlukan digelarnya event berskala intèrnasional menjadi event tetap setiap tahun dengan memanfaatkan media yang ada.

Dewasa ini terasa kemajuan diberbagai aspek pembangunan sebagai dampak dari gencarnya pemerintah menyelenggarakan berbagai event di daerah. Dapat dilihat dari ajang balap sepeda Tour de Flopres 2017. Ajang ini menjadi sarana untuk menarik minat wisatawan berkunjing ke NTT. Diharapkan setelah event berskala internasional Tour de Flores 2017, kunjungan wisatawan baik domestik maupun mancanegara dapat melampui dari total kunjungan tahun 2016. Manfaat dari event seperti sangat berpengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi maupun pendapatan masayarakat. (*)

Show Buttons
Share On Facebook
Share On Twitter
Share On Google Plus
Share On Pinterest
Hide Buttons