Lifuleo jadi Pusat Pembangkit Listrik untuk Wilayah Timor

PLTMG dengan kapasitas 184 MW, di Lhokseumawe, Aceh, yang telah diresmikan Presiden Joko Widodo. (Ist)

PLTMG dengan kapasitas 184 MW, di Lhokseumawe, Aceh, yang telah diresmikan Presiden Joko Widodo. (Ist)

KUPANG, berandanusantara.com – PT PLN (Persero) wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT), merencanakan pembangunan pembangkit listrik terpusat di lokasi desa Lifuleo, kecamatan Kupang Barat, kabupaten Kupang (NTT).

“Lokasi di Lifuleo akan kami jadikan pusat pembangkit listrik di wilayah Timor,” kata General Manager PT PLN (Persero) wilayah NTT, Christyono, saat groundbreaking PLTMG Kupang Peaker 40 megawatt (MW), oleh Gubernur NTT, Frans Lebu Raya, di Lifuleo, Jumat (22/10) belum lama ini.

Menurut Christyono, selain PLTMG Kupang Peaker 40 MW dibangun di Lifuleo, PT PLN (Persero) wilayah NTT juga dalam waktu dekat akan membangun lagi satu Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berkapasitas 2 x 50 MW atau 100 MW di Lifuleo.

“Jadi PLTMG Kupang Peaker 40 MW ditambah 100 MW PLTU berkapasitas 100 MW maka di lokasi Lifuleo tersedia sebanyak 140 MW listrik untuk mengaliri seluruh daratan Timor. Semua pembangkit listrik akan terpusat di lokasi desa Lifuleo, selain pusat listrik milik PLN yang ada di Bolok,” paparnya.

Lanjut Christyono, rencana pembangunan sejumlah pembangkit listrik secara terpusat di lokasi Lifuleo, bertujuan selain untuk memenuhi kebutuhan listrik di NTT, juga mengingat kawasan di sekitar desa Lifuleo dan Bolok adalah kawasan industri.

“Kami juga sementara melakukan studi lokasi mencari sumber gas untuk tampung di lokasi pembangkit listrik desa Lifuleo,” tambah Christyono.

Dia mengakui, PT PLN (Persero) wilayah NTT sementara melakukan pemilihan lokasi lewat studi kelayakan untuk pembangunan tiga proyek kelistrikan yang segera dibangun dalam tahun ini, yaitu di Wetabula, Rote Ndao dan di kabupaten Lembata.

Sementara itu, Gubernur Frans Lebu Raya, mengatakan listrik sudah menjadi kebutuhan semua orang. Kalau masa lalu, listrik adalah barang mewah maka sekarang bukan barang mewah lagi.

Terkait dengan ketersediaan listirIk saat ini terdapat di NTT, ucap Lebu Raya, sebanyak 200 MW, termasuk di Timor 105 MW. Kalau ditambah PLTMG Kupang Peaker 40 MW juga dibangun lagi PLTU dengan kapasitas 2 x 50 MW (100 MW), maka secara keseluruhan di NTT terdapat 245 MW.

Lebu Raya menuturkan, jika bicara soal efisiensi dalam pembangunan kelistrikan, rasanya sulit. Hanya mengaliri untuk kebutuhan listrik rumah tangga, pasti tidak efisien. Supaya efisien harus mendorong sektor industri masuk ke NTT.

“Mendorong industri masuk ke daerah ini, butuh kerelaan kita semua. Mesti ada kesediaan kita semua menerima investor yang ingin datang membangun daerah ini. Seperti sedang proses pembangunan Semen Kupang Indonesia, pasti membutuhkan listrik yang banyak,” jelas Lebu Raya.

Dia menambahkan, kalau listrik hanya mengaliri untuk kebutuhan rumah tangga, maka PLN rugi juga. Sehingga perlu mendorong industri menanamkan investasinya di NTT. Dengan begitu, akan berdampek bagi pertumbuhan ekonomi di NTT.

“Saya minta kalau ada yang mau berinvestasi disini, berilah kesempatan. Kalau ada masalah tanah, bicara baik-baik, jangan langsung tolak mereka,” pintanya. (AM/Hms)

Show Buttons
Share On Facebook
Share On Twitter
Share On Google Plus
Share On Pinterest
Hide Buttons