Memilih BKH-Litelnoni, Berarti Masyarakat NTT Memilih Untuk Sejahtera

Oleh: Gyovani Sarwolfram
*(Mahasiswa Jurusan Hukum/Ilmu Hukum di Universitas Janabadra Jogyakarta)

Ist

Ist

Memilih pemimpin tentunya punya alasan tersendiri bagi seorang pemilik hak suara. Begitupun halnya dengan mendukung calon pimpinan. Untuk kontestasi pilgub NTT, saya mempunyai ketertarikan pada sosok Beni K. Harman dan Benny A. Litelnoni. Ketertarikan saya berawal dari membaca rekam jejak kedua tokoh ini.

Benni K. Harman, siapa yg tidak mengenal beliau, beliau adalah langganan anggota DPR RI sejak tahun 2004. Secara organisasi beliau sudah makan garam dengan organisasi nasional maupun internasional. Sudah banyak memimpin organisasi skala nasional yg membuat beliau tentunya sudah mapan secara teori dan praktek menjadi seorang pemimpin. Buktinya dipercayakan oleh banyak organisasi untuk menjadi pemimpin.

Jangan tanya soal kontribusi BKH terhadap NKRI, itu bukan lagi retorika tapi sudah dipraktekkan langsung oleh beliau selama menjabat sebagai anggota DPR RI. Komitmen dalam pemberantasan korupsi tentunya beliau salah satu tokoh politik sekaligus wakil rakyat yg dengan gencar memerangi korupsi. Bisa dibuktikan dengan membaca pernyataan dan rekam jejak beliau dalam memberantas korupsi.

Yang satunya, Benny A. Litelnoni. Beliau lahir di Niki-niki, Amanuban Tengah, Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur, 5 Agustus 1956.

Sebelum menjadi wakil gubernur NTT pada 2013, ia menjabat sebagai Wakil Bupati Timor Tengah Selatan (TTS) yang mendampingi bupati Paul Victor Roland Mella sejak 6 Maret 2009 hingga 16 Juli 2013.

Litelnoni adalah seorang birokrat. Ia menjadi PNS di Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) TTS sejak Maret 1980 hingga tahun 2000. Ia kemudian menjadi Kepala Bagian Ketertiban Setda Kabupaten TTS dari Mei 2000 hingga Juli 2001.

Lalu, ia menjadi Kepala Kantor Satuan Polisi Pamong Praja TTS dari Juli 2001 hingga Mei 2004. Kemudian dari Mei 2004 hingga Januari 2006 menjadi Kepala Badan Penjenjangan pada Badan DIKLAT Kabupaten TTS.

Sebelum menjadi wakil bupati TTS pada 2009, ia menjadi Kasubdin Postel pada Dinas Perhubungan Kabupaten TTS dari Januari 2006 hingga 2008.

Bentangan pengalaman di atas membuktikan bahwa sosok Benny A. Litelnoni dari segi pengalaman dan integritas diri tidak diragukan lagi.

Dua tokoh multi pengalaman ini maju dalam Pilgub NTT dengannniat tulus untuk menolong NTT yang hari ini menurut Data BPS berada di posisi 3 sebagai provinsi termiskin.

BKH dan Litelnoni membawa 5 tawaran solutif untuk mengatasi berbagai persoalan tersebut, yakni; reformasi sistem birokrasi pemerintah daerah, perbaharui kelembagaan sosial kemasyarakatan, dan percepat dinamika perubahan sistem ekonomi wilayah. Lalu, peningkatan pembangunan sarana dan prasarana social dasar dan intensifikasi penegakan hukum dan HAM.

Itulah program yang ditawarkan Harmoni untuk membawa NTT keluar dari kemiskinan. Tinggal sekarang kita menentu pilihan. Bagi saya sosok pasangan yg dikenal dengan HARMONI inilah yang cocok menjadi nahkoda NTT kedepannya.

Dengan slogan “SAATNYA NTT SEJAHTERA” KITA BHINEKA diyakini benar – benar bisa membawa NTT ke kondisi yang lebih baik lagi dari sekarang.

Pada akhirnya memilih Hamoni, berarti masyarakat NTT punya kesadaran untuk bangkit dari keterpurukan, kemiskinan dan memilih perubahan nasib yakni menjadi sejahtera. Salam HARMONI salam BHINEKA, memilih HARMONI memilih SEJAHTERA. (*)

Show Buttons
Share On Facebook
Share On Twitter
Share On Google Plus
Share On Pinterest
Hide Buttons