Program PNPM-MPD Bawa Dampak Positif Untuk Masyarakat

Ketua Kelompok Mawar Melati, Kepala Desa Tualima, Fasilitator Kabupaten, BKAD Kecamatan, pose bersama saat kegiatan monitoring dan evaluasi di Kelompok Jahit Mawar Melati. (foto: Ryan Tulle/BN)

Ketua Kelompok Mawar Melati, Kepala Desa Tualima, Fasilitator Kabupaten, BKAD Kecamatan, pose bersama saat kegiatan monitoring dan evaluasi di Kelompok Jahit Mawar Melati. (foto: Ryan Tulle/BN)

Ronda, berandanusantara.com– “Dengan segala keterbatasan sumber daya manusia pada kelompok kami yang telah dinamai mawar melati, sekarang sudah bisa menciptakan lapangan pekerjaan baru bagi saya dan 4 rekan yang berprofesi sebelumnya dari ibu rumah tangga (IRT), saat ini bias menjadi penjahit pakian yang didanai melalui kegiatan PNPM- MPD,” ungkap Yepriana Nalenan, Ketua Kelompok Mawar Melati di Desa Tualima, kecamatan Rote Barat Laut, Kabupaten Rote Ndao, yang saat ditemui di kediamannya, Jumat (29/08/2014), sementara sibuk menjahit bersama 4 anggota kelompoknya.

Yepriana bercerita, sebelumnya dirinya sudah mempunyai bakat menjahit selama belasan tahun terakhir. Namun, dirinya belum bisa mengembangkan bakatnya di bidang jahit-menjahit karena persoalan tidak memiliki modal. Sehingga, untuk mengisi waktu dan demi kepentingan hidup keluarganya, dirinya sehari-hari bekerja sebagai petani.

Namun, dalam perjalanan waktu, dirinya tidak menyangka lewat kegiatan PNPM-MPD di Kecamatan Rote Barat Laut awal bulan Agustus lalu, doa Yepriana terkabulkan. Kelompok Mawar Melati yang dipimpinnya dengan anggota sebanyak 4 orang mendapatkan dana bantuan sebesar 24.100.000 rupiah.

Meski dengan anggaran yang sangat pas-pasan, hal ini tidak mengurungkan niat usahanya. Uang tersebut digunakannya membeli 6 unit mesin jahit dan 1 buah mesin obras, serta beberapa alat dan bahan pelengkap berupa kain, gunting, benang, serta bahan dasar lainnya.

Fasilitator Kabupaten Rote Ndao menunjukan satu stelan celana pria, hasil menjahit dari kelompok Mawar Melati. (foto: Ryan Tulle/BN)

Fasilitator Kabupaten Rote Ndao menunjukan satu stelan celana pria, hasil menjahit dari kelompok Mawar Melati. (foto: Ryan Tulle/BN)

Dari usahanya tersebut, jelasnya, dalam waktu 2 minggu kelompoknya sudah bisa menghasilkan 20 pasang pakaian ukuran dewasa lengkap dengan celana. Dijelaskan, pakaian tersebut dijual dengan harga per pasangnya mencapai Rp. 320.000. Dari hasil penjualan, dia bersama anggota kelompok sepakat untuk ditabung, dimana akan digunakan untuk membangun tempat usaha sendiri karena saat ini mereka masih menggunakan salah satu rumah di desa tersebut.

Selain menjahit pakian pesanan, ibu-ibu kelompok menjahit mawar melati tersebut juga bisa menerima pesanan berbagai macam jahitan dari ukuran anak kecil, dewasa, bahkan perbaikan jahitan.

“kami berharap kedepannya PNPM MPd selalu memonitor kegiatan ini sebagai bahan evaluasi bagi kami. dan juga memperbanyak lagi lapangan pekerjaan menjahit dan juga kegiatan lainnya berupa pembuatan kerajinan tangan serta usaha boga sari. saya dan rekan – rekan ucapkan terima kasih atas perhatiannya kepada pemda rote ndao yang peduli dan menambahkan ilmu pengetahuan serta ketrampilan menjahit bagi kami dan kami teruskan bagi generasi selanjutnya,” pungkasnya. (Ryan Tulle)

 

Show Buttons
Share On Facebook
Share On Twitter
Share On Google Plus
Share On Pinterest
Hide Buttons