Sisihkan Ratusan Ribu Pesaing, Gadis Berdarah NTT Wakili Asia ke Argentina

Ist

Ist

JAKARTA – Tahun 2017 ini mungkin tahun penuh berkah buat prestasi putra-putri atau yang memiliki darah keturunan NTT. Dalam catatan saya, ada 3 peristiwa di mana NTT mengharumkan nama Indonesia. Ketiganya sebagai berikut:

Aryz Bulo, Juara I Kiessel Guitar sedunia di Amerika Serikat setelah sebelumnya meraih juga Juara I Ibanez Flying Finger pada 2014 di Jepang. Kontingen Kempo NTT yang berhasil meraih 3 emas pada Kejuaaran Kempo Internasional di California, AS.

Dan yang ketiga yang tak kalah bergengsi adalah seorang gadis bernama Grace Djoudi Kuncoro. Siapa dia? Yuk disimak!

Perawakannya sedang, berwajah oval, berkulit hitam manis dengan rambut sebahu. Saat berfoto bersama rekan-rekannya sesama pemenang event, terlihat ia paling kecil.

Namun, siapa sangka, gadis yang masih remaja ini berhasil mewakili Asia, tidak cuma Indonesia dalam ajang Young Ambassador for a World Free of Child Labour and Forced Labour yang dilangsungkan di Buenos Aires, Argentina 14-16 November kemarin.

Sekilas mengenai Young Ambassador for a World Free of Child Labour and Forced Labour adalah kegiatan yang diprakarsai oleh International Labour Organisation, sebuah organisasi buruh milik PBB.

Grace bersama dua rekannya dari Myanmar dan Nepal harus menyisihkan sekian ratus ribu pesaing dari Asia guna berpartisipasi langsung dalam kegiatan bergengsi tersebut berkat essay yang dibuatnya terpilih sebagai salah satu karya terbaik yang lolos dalam event yang diselenggarakan PBB dalam rangka IV Global Conference on the Sustained Eradication of Child Labour melalui facebook.

Keterpilihannya ini praktis menciptakan catatan tersendiri sebab:

Pertama, Grace adalah putri dari pasangan Petrus Kuncoro dan Maria Yohanista Erowati Djou. Darah NTT diperolehnya dari Ibu yang asli Ende, NTT. Sementara kita tahu, NTT adalah Propinsi yang masih dikenal sebagai propinsi yang masih terbelakang, juga angka Human Traffickingnya yang tinggi. Maka, keterpilihan Grace adalah sesuatu yang menghadirkan rasa haru sekaligus semacam inspirasi terutama bagi kaum muda seusianya dari NTT.

Kedua, Ini juga sekaligus menunjukkan bahwa apabila anak-anak muda seusianya di NTT memiliki tingkat aksesibilitas pada berbagai fasilitas sosial seperti yang dimilikinya yang lahir dan besar di Jakarta, bukan tidak mungkin Grace-grace lainnya tampil berlomba-lomba dari negeri leluhurnya tersebut. Ya, orang-orang NTT sesungguhnya tidak sebodoh yang umumnya dibayangkan orang-orang di negeri ini akibat predikat propinsinya yang masih terkatagori propinsi terbelakang.

Ketiga, Di saat generasi seusianya di negeri ini masih sibuk mencari jati diri sebagai generasi milenial, eksis dengan berselfie ria di media-media sosial supaya mendapat pengakuan eksistensial lazimnya anak-anak zaman now berkreatifitas, Grace malah mampu mengalahkan egonya sendiri, keluar dari kecenderungan zaman untuk menunjukkan kesejatian jiwa yang dimilikinya sebagai orang yang berkepedulian sosial.

Melalui dinding facebook pakdenya Ignas Iryanto, ia pun menulis demikian,

“Selama konferensi berlangsung, saya mendapat banyak pengalaman dan informasi yang membahas tentang prinsip dasar dan data stastistik mengenai jumlah child labour, forced labour, dan human trafficking yang masih tinggi. Hal tersebut tentu menciptakan tantangan yang berat untuk mencapai target 8.7 SDGs.

Untuk itu, semua stakeholders harus terlibat dalam tindakan nyata untuk penghapusan child labour, forced labour, trafficking, dan pengupayaan youth employment dengan memberikan pendidikan yang mendukung anak untuk mempermudah mendapatkan akses kerja dan keterampilan untuk membuka usaha (bisnis) serta membuka peluang peningkatan pendapatan bagi orangtua untuk mendapat kesempatan kerja demi mengurangi jumlah child labour dan unemployment.

Konferensi tersebut menghasilkan Deklarasi Buenos Aires. Kami (young ambassadors) berkesempatan untuk membahas isi dan menandatangani Deklarasi Buenos Aires sebagai wujud dukungan dan komitmen orang muda untuk terlibat dan berpartisipasi dalam tindakan nyata untuk mencapai target 8.7 SDGs selaras dengan The Buenos Aires Declaration.

Sebagai Young Ambassador, saya sadar bahwa masalah ini sangat konkret merupakan masalah di Indonesia. Berita mengenai human trafficking, pemalsuan umur ketika merekrut TKI/TKW dan bahkan baru-baru ini ketika terjadi ledakan di pabrik Mercon di wilayah Tangerang, diketahui bahwa 3 dari 48 korban tewas adalah pekerja anak. Sampai saat ini persoalan itu seperti hilang ditelan angin lalu, tidak terdengar apa tindakan pemerintah atas pelanggaran tersebut.

Untuk mewujudkan komitmen saya sebagai Young Ambassador, upaya nyata yang akan saya lakukan adalah membangun kesadaran dan memobilisasi orang muda sebagai agen perubahan untuk 3 isu utama dalam target 8.7 SDGs. Saya percaya pengaruh yang diberikan antar sesama orang muda sangat kuat.

Saya akan membuat dan membagikan artikel pengalaman keterlibatan saya dalam Global conference ke media sosial, melakukan sosialisasi dengan organisasi kepemudaan dilingkungan terdekat seperti di kampus, perkumpulan orang muda berbasis agama, serta forum anak dan orang muda lainnya.

Saya juga akan mencari peluang kerja sama dengan lembaga pemerintah dan organisasi lainnya ataupun perusahaan (CSR) untuk melakukan kegiatan bagi para youth. Tujuannya agar para youth dapat berkontribusi untuk penghapusan child labour, forced labour, dan trafficking atau para child labour mendapatkan kesempatan untuk belajar (termasuk pelatihan kerja), mempersiapkan masa depan yang lebih baik, serta mendapatkan perlindungan sosial.”

Grace, Aryz dan Kontingen Kempo NTT, menjadi bukti hidup bahwa komitmen, konsisten, fokus, tekad dan kerja keras adalah hal-hal yang akan membuahkan prestasi. Meski NTT daerah kelahiran mereka ataupun orang tuanya adalah daerah yang sering dipandang sebelah mata di dalam negeri, nyatanya bisa menyejajarkan diri pada tokoh-tokoh peraih prestasi dunia, tidak sekadar level nasional. (Sumber: seword)

Show Buttons
Share On Facebook
Share On Twitter
Share On Google Plus
Share On Pinterest
Hide Buttons