Gunakan QRIS Selama 3 Tahun, Nobertha Nona: Bank NTT Luar Biasa

  • Whatsapp
Nobertha Nona (kiri) memamerkan barang daganganya pada momen peresmian Kantor Fungsional Bank NTT Moni. (Foto: BN)

KUPANG, berandanusantara.com – Perempuan paruh baya itu duduk tenang bersama barang dagangannya di halaman Kantor Fungsional Bank NTT Moni pada Senin (11/4/2022) pagi.

Mengenakan pakaian khas Ende Lio dengan atasan berwarna merah dipadu sarung tenun, Nobertha Nona berangkat dari kediamannya di Kecamatan Wolowaru menuju Moni sejak pukul 07.00 Wita.

Read More

banner 728x250

Perjalanan dari Wolowaru menuju Moni memakan waktu kurang lebih 45 menit. Bersama seorang rekannya, Bertha Nona membawa barang dagangannya menggunakan kendaraan umum.

Mama Bertha, sapaan akrabnya, diundang oleh Bank NTT untuk hadir memamerkan dan menjual berbagai kerajinan tangan berupa asesoris dan kain tenun, yang diproduksi melalui kelompok usaha “Sadar Diri 2” miliknya.

Kebetulan saat itu adalah momen peresmian Kantor Fungsional Bank NTT Moni oleh Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat. Dan kelompok usaha Mama Bertha adalah salah satu UMKM binaan Bank NTT Cabang Ende.

Tiba di Moni, Mama Bertha langsung bergegas menggelar barang dagangannya di atas meja yang telah dipersiapkan panitia, di bawah tenda bertuliskan “Menabung di Bank NTT = Membangun NTT”.

Tepat jam 8 Mama Bertha duduk bersama barang hasil kerjaninannya, meski Gubernur NTT dan rombongan rencananya tiba di lokasi kegiatan sekitar pukul 09.00 Wita. Meski demikian, Mama Bertha tetap duduk santai sambil menunggu.

Mama Bertha mengaku senang, karena mendapat ruang untuk bisa memamerkan dan menjual semua produk yang dihasilkan melalui kelompok usahanya. Apalagi sepanjang pandemi melanda, berbagai produknya sepi pembeli.

“Selama ini memang sepi karena pandemi, tapi kami terus mendapat motivasi dan dukungan dari Bank NTT,” ungkap Mama Bertha.

Barang dagagan Mama Bertha berupa asesoris dijual dengan harga berkisar dari Rp15 hingga Rp100 ribu. Asesois itu berupa anting-anting dan gelang. Sementara untuk kain sarung buatan kelompoknya berkisar antara Rp500 hingga Rp2 Juta.

Menariknya, Mama Bertha mengaku sepanjang 3 tahun terakhir dirinya menyediakan layanan QRIS Bank NTT, sebagai alat pembayaran atau bertransaksi dengan siapapun yang hendak membeli barang dagangannya.

QRIS merupakan singkatan dari Quick Respon Code Indonesian Standard. Layanan ini merupakan standarisasi pembayaran menggunakan metode QR Code dari Bank Indonesia agar prose transaksi lebih mudah, cepat dan aman.

“QRIS Bank NTT ini sangat membantu karena tidak ada potongan, kami tidak perlu siap uang kembali, dan sangat aman,” kata Mama Bertha.

Menurut Mama Bertha, selama ini dirinya merasakan pelayanan Bank NTT sangat baik. Bahkan dirinya mengaku bangga bisa menjadi bagian dari upaya Bank NTT mengangkat semua potensi yang ada di masyarakat, termasuk UMKM.

“Bank NTT luar biasa. Kami sangat merasakan manfaatnya,” kata Mama Bertha.

Elektronifikasi serta digitalisasi dalam layanan sedang digencarkan oleh Bank NTT. Tak terkecuali dalam sistem pembayaran.

Hal ini ditegaskan Direktur Utama Bank NTT Harry Alexander Riwu Kaho bahwa Bank NTT sebagai agen of development berkomitmen menciptakan sistem pembayaran yang sehat, aman, mudah, murah, dan cepat.

Dalam berbagai kesempatan, Dirut Bank NTT selalu menegaskan bahwa dengan menggunakan QRIS, maka masyarakat terhindar dari praktek uang palsu. Apalagi, ini terkait denhgan upaya menjaga kedaulatan nilai uang bangsa Indonesia yakni Rupiah.

Dengan gencarnya sosialisasi penggunaan QRIS kepada nasabah, Bank NTT baru-baru ini berhasil meraih penghargaan sebagai PJPS Bank pendukung implementasi QRIS terbaik tahun 2021 dari Bank Indonesia (BI). (BN)

Related posts