KUPANG, BN – Pemerintah Kota Kupang belum lama ini memperkenalkan inovasi baru dalam manajemen kebencanaan melalui program TOP RANGER (Transportasi Online Peduli Relawan Penanggulangan Bencana Daerah). Program berbasis kolaborasi ini diinisiasi BPBD Kota Kupang untuk menjawab kelemahan paling krusial dalam penanganan bencana: terbatasnya personel dan lambatnya mobilitas relawan saat terjadi kejadian darurat.
“Program ini kami mengajak para pengemudi online untuk bergabung menjadi relawan penanggulangan bencana. Mereka menjadi mata dan telinga kami, karena mereka ada dimana-mana dan 24 jam berkeliling kota ini,” jelas Kepala Pelaksana BPBD Kota Kupang, Ernest Ludji, belum lama ini.
Di bawah kepemimpinan Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, pemerintah kota menegaskan bahwa TOP RANGER adalah model baru kerja sama lintas sektor yang memanfaatkan platform transportasi daring guna memperpendek waktu respon (response time) dalam penanganan bencana di tingkat kelurahan dan RT.
Latar Belakang: Kota Rawan, SDM Minim
Sebagai wilayah pesisir dengan dinamika cuaca ekstrem dan kepadatan permukiman yang terus meningkat, Kota Kupang menghadapi kerentanan tinggi terhadap berbagai jenis bencana: angin kencang, gelombang pasang, banjir rob, pohon tumbang, hingga kebakaran permukiman. Data BPBD menunjukkan bahwa dalam lima tahun terakhir:
- kejadian angin kencang melonjak terutama saat puncak musim hujan;
- pohon tumbang menjadi laporan tertinggi;
kebakaran rumah meningkat pada musim kemarau; - dan kasus drainase meluap membentuk pola kejadian berulang di kecamatan padat penduduk.
Di tengah frekuensi kejadian tersebut, BPBD Kota Kupang harus bekerja dengan keterbatasan SDM. Jumlah personel TRC (Tim Reaksi Cepat) tidak sebanding dengan luas wilayah dan volume laporan masyarakat. Akibatnya, respons lapangan kerap tertunda, yang kemudian memicu keluhan warga.
TOP RANGER dirancang untuk menjawab masalah itu.
Kolaborasi Pemkot–Transportasi Daring
Melalui TOP RANGER, Pemkot Kupang bekerja sama dengan penyedia layanan transportasi online roda dua dan roda empat. Para pengemudi yang bermitra dapat menerima tugas pengantaran relawan atau logistik ke titik kejadian bencana.
Skema kerjanya sebagai berikut:
- Relawan terlatih BPBD ditempatkan di kantong-kantong wilayah rawan,
- saat laporan bencana masuk melalui kanal BPBD atau Baronda, sistem memberikan notifikasi kepada mitra pengemudi terdekat,
- pengemudi menjemput relawan atau membawa perlengkapan ringan,
- BPBD memantau seluruh pergerakan armada melalui dashboard digital.
Inovasi ini memungkinkan perpindahan relawan hanya dalam hitungan menit, bukan jam.
“Ini bukan sekadar inovasi teknologi, tapi perubahan cara kerja,” ujar Wali Kota Kupang saat peluncuran TOP RANGER. “Dengan kerja sama transportasi online, kita memastikan bahwa relawan bisa bergerak cepat tanpa bergantung pada jumlah kendaraan BPBD.”
Kecepatan Respon Jadi Kunci
World Bank dan BNPB menekankan bahwa faktor paling menentukan dalam keselamatan warga saat bencana adalah “golden hour”, yaitu satu jam pertama sejak kejadian. Kota Kupang ingin mengamankan fase kritis ini agar penanganan ringan seperti pohon tumbang atau kebakaran kecil, tidak berkembang menjadi bencana yang lebih besar.
Sebelumnya, laporan warga bisa menunggu 30 menit hingga 1 jam sebelum tim BPBD tiba, terutama pada jam padat lalu lintas atau ketika kendaraan dinas terbatas. Melalui TOP RANGER, pemerintah kota menargetkan waktu tanggap rata-rata turun menjadi 10–15 menit.
Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo menegaskan bahwa penanganan bencana tidak boleh dipandang sebagai tugas eksklusif BPBD. Ia meminta seluruh camat dan lurah terlibat aktif, termasuk dalam hal validasi laporan warga dan memastikan akses jalan menuju titik bencana tidak terhambat.
Ia menyebut bahwa TOP RANGER menjadi bagian dari pendekatan besar untuk membangun pemerintahan yang responsif dan hadir dalam kondisi mendesak.
“Respons cepat adalah bentuk paling dasar dari kehadiran negara. Jika warga sudah melapor tapi bantuan tidak datang tepat waktu, yang rusak bukan hanya rumah atau pohon, tapi kepercayaan publik,” katanya.
Kolaborasi Relawan: Membangun Kekuatan Baru
Selain transportasi, TOP RANGER juga memperkuat ekosistem relawan kebencanaan. Relawan yang sebelumnya bergerak secara sporadis kini terintegrasi dalam sistem dengan pelatihan tersertifikasi BPBD.
Mereka dibekali: keterampilan dasar pertolongan pertama, penggunaan alat evakuasi ringan, teknik mengamankan lokasi,
dan protokol keselamatan diri.
Pemkot Kupang berharap dalam dua tahun ke depan, setiap kelurahan memiliki minimal 5–10 relawan aktif yang dapat digerakkan melalui TOP RANGER.
Tantangan: Infrastruktur Data dan Konsistensi
Meski menjanjikan, program ini punya tantangan:
- belum adanya peta risiko yang diperbarui secara berkala,
- keterbatasan akses internet di beberapa titik,
- ketergantungan pada ketersediaan mitra pengemudi pada jam tertentu,
dan kebutuhan anggaran untuk insentif relawan.
TOP RANGER membutuhkan integrasi kuat dengan sistem laporan publik, basis data rawan bencana, dan kesiapan kelurahan sebagai garda terdepan.
Arah Baru Kota Kupang
Peluncuran TOP RANGER menjadi sinyal bahwa Pemerintah Kota Kupang sedang bergerak ke arah manajemen bencana yang lebih adaptif dan berbasis kolaborasi. Program ini memperlihatkan bahwa inovasi tidak selalu harus dibuat dari nol—kadang cukup dengan memanfaatkan ekosistem yang sudah ada dan menghubungkannya dengan kebutuhan publik.
Dengan frekuensi bencana yang terus meningkat akibat perubahan iklim dan urbanisasi, Wali Kota Kupang berharap TOP RANGER dapat menjadi model yang direplikasi oleh daerah lain.
“Kota Kupang butuh sistem yang cepat, tangguh, dan dekat dengan warga. TOP RANGER adalah langkah pertama,” pungkasnya.
Salah satu pengemudi Online, Ing, mengaku merasa senang ikut terlibat dan menjadi relawan Top Ranger, selain hal ini tentang kemanusiaan, dirinya juga senang mendapat pengetahuan baru tentang kebencanaan, bagaimana melakukan pertolongan dasar jika terjadi suatu bencana jika kebetulan berada di sekitar lokasi kebencanaan. pasalnya, sejak menjadi pengemudi online, kadang melihat atau menemui kejadian kecelakaan tetapi kerap memilih tidak melakukan apapun karena ketidaktahuan, apa yang harus dilakukan jika ingin menolong.
“Saya senang ya, bisa dilibatkan dalam hal kebencanaan, ini pengalaman berharga untuk kami, dapat ilmu baru, pengalaman baru, mungkin biasa di jalan kita kerap temui kecelakaan, tapi tidak tahu cara memberi pertolongan pertama, tapi sekarang kami sudah tahu bagaimana memberikan pertolongan,” kata Ing.
Manajemen Grab Kupang, Dira, mengapresiasi kepercayaan dan kolaborasi bersama Pemerintah Kota (Pemkot) Kupang melalui BPBD, yang mana menjalin kesinambungan dan kerjasama dibidang kemanusiaan dengan melibatkan para pengemudi online menjadi perpanjangan tangan dalam hal informasi kebencanaan di titik – titik tertentu yang tidak terjangkau saat terjadi suatu kebencanaan.
“Kami sangat menyambut baik kerjasama ini, dimana teman-teman kami pengemudi online menjadi perpanjangan tangan dari pemerintah dalam hal informasi awal jika terjadi kebencanaan dilapangan,”terang Dira (*/Andyos Manu/Advertorial)






