Penderita Stunting di Desa Teun–Belu Sebanyak 335 Anak, Legislator Nandi Taek Kaget

Bagikan:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Nandi Taek saat bertatap muka dengan perangkat desa Teun dan warga. (Ist)

ATAMBUA, berandanusantara.com – Anggota DPRD NTT Komisi II, Bernardinus Taek di Kabupaten Belu, NTT kaget lantaran saat melakukan reses di desa Teun, kecamatan Raimanuk, Belu, ditemukan data 335 anak menderita stunting. Angka ini menurutnya sangat tinggi.

Stunting adalah kondisi gagal pertumbuhan pada anak (pertumbuhan tubuh dan otak) akibat kekurangan gizi dalam waktu yang lama. Sehingga, anak lebih pendek atau perawakan pendek dari anak normal seusianya dan memiliki keterlambatan dalam berpikir. Umumnya disebabkan asupan makan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi.

Persoalan ini juga menjadi perhatian serius pemerintah Provinsi NTT. Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat bahkan menginstruksikan para Kepala Desa di NTT untuk menggunakan Dana Desa guna menekan angka stunting yang terlampau tinggi tersebut.

Nandi Taek, sapaan akrabnya, dalam kegiatan Reses di Desa Teun, Rabu (18/3/2020) mengatakan perlu kerjasama semua pihak baik pemerintah Desa, pemerintah Kabupaten Belu, dan pemerintah Provinsi NTT untuk mengatasi persoalan stunting tersebut.

“Saya minta semua pihak terutama pemerintah desa untuk bekerjasama menekan angka stunting yaitu dengan tanam kelor, makan kelor, sayuran, buah-buahan, dan makan makanan bergizi lainnya,” ungkap Nandi.

Dia juga menyarankan pemerintah Desa Teun agar menyiapkan makanan tambahan berupa susu untuk diberikan kepada ibu hamil dan anak-anak. Anggota DPRD NTT Fraksi PAN ini menekankan pentingnya pola hidup sehat agar masyarakat Desa Teun bisa terhindar dari persoalan stunting.

“Itu solusi jangka pendek. Di Desa Teun harus ada MCK dan masyarakat harus terapkan pola hidup sehat. Kita juga harus memberikan makanan tambahan berupa susu kepada anak-anak kita di sini. Persoalan stunting ini menjadi catatan bagi anggota DPRD NTT fraksi PAN yang ada di Komisi V agar bisa diperjuangkan dalam rapat komisi nanti,” ujar Nandi.

Sementara itu, Kepala Desa Teun, Agustinus Min mengatakan, angka stunting tersebut merupakan yang tertinggi di Kabupaten Belu.

Pria yang baru saja dipercayakan menjabat sebagai Kepala Desa tersebut menjelaskan, pola hidup tidak sehat dari masyarakat Desa Teun menjadi faktor utama penyebab tingginya angka stunting.

“Masyarakat di Desa Teun, rata-rata belum punya MCK. Jam BAB biasanya jam 5 pagi dan jam 12 malam,” ucapnya dengan nada serius.

Untuk mengatasi persoalan stunting, dirinya juga telah memberikan makanan tambahan berupa susu kepada anak-anak di Desa Teun.

“Kita juga siapkan jaringan air bersih menuju rumah warga. Semuanya dibiayai oleh Dana Desa,” tandasnya.

Sebelumnya, Sesuai dengan Permendesa Nomor 19/2017 tentang prioritas penggunaan Dana Desa 2018, disebutkan bahwa Dana Desa dapat digunakan untuk kegiatan penanganan stunting sesuai musyawarah desa. (AM/Nusata)


Bagikan:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Show Buttons
Share On Facebook
Share On Twitter
Share On Google Plus
Share On Pinterest
Hide Buttons