Smart Economy dari Bank NTT untuk Kupang Smart City

ist

ist

KUPANG, berandanusantara.com – Bank NTT belum lama ini meluncurkan konsep smart economy. Selain sebagai bentuk partisipasi nyata dalam pembangunan, konsep ini merupakan bentuk dukungan untuk Kota Kupang sebagai salah satu smart city di Indonesia.

Direktur Pemasaran Dana Bank NTT, Aleksander Riwu Kaho, menjelaskan, smart economy merupakan bentuk sinergitas sekaligus peluang bagi Kota Kupang dan Bank NTT dalam memajukan ekonomi. Hal ini berangkat dari hasil diskusi dengan Pemerintah Kota Kupang saat soft launching smart city beberapa pekan lalu.

Ia mengatakan bicara smart city, maka di dalamnya termasuk smarc economy. Oleh karena itu, peluang Bank NTT untuk berkontribusi positif bagi pembangunan Kota Kupang. Dirinya mengaku bahwa Bank NTT menyikapi sinergitas dan peluang dari pemerintah untuk membangun smart city.
“Dalam pembicaraan itu, kita dikasih ruang memanfaatkan 57 peluang yang ada di kelurahan dan kecamatan, namun seiring berjalannya waktu berkembang menjadi 101 titik,” katanya.

Aksi nyata Bank NTT melalui konsep smart economy, yakni akan merekrut ASN Kota Kupang menjadi member atau agen digital Bank NTT.

Dari program digital agent ini Bank NTT dengan sendirinya mendorong optimalisasi pemanfaatan fasilitas pada mobile banking dan SMS banking untuk meningkatkan pendapatan masyarakat. “Ada terbuka ruang bagi masyarakat untuk meningkatkan pendapatan karena ada kanal-kanal pembayaran dan pembelian di situ,” kata Alex.

Langkah lain yang dilakukan bank daerah satu-satunya di NTT ini, yakni bekerja sama dengan Ayo Pop Vendor dan I-chanel. Program ini akan terkoneksi dengan berbagai market. Hal ini akan berdampak positif untuk pemanfaatan usaha yang produktif.

Smart economy menyambut program smart city ini memulai langkah awal untuk bersinergi dengan berbagai pelaku ekonomi yang ada di Kota kupang. “Kita sudah membangun kerja sama dan komunikasi dengan REI, HIPMI dan KADIN. Contohnya REI dalam memanfaatkan titik-titik layanan itu bisa melakukan meeting market pada setiap titik smart city dan bisa memanfaatkan tempat itu sebagai tempat pemasaran,” jelas Alex.

Terobosan lain Bank NTT dalam upaya pendekatan pelayanan yakni berupaya mendorong penguatan ekonomi rumah tangga. “Bagi ASN yang direkrut untuk menjadi petugas dan ditempatkan pada titik pendekatan layanan itu, yang memiliki istri atau suami atau anak yang mau berusaha kami akan memberikan layanan kredit KUR atau usaha mikro seperti usaha warung kopi atau warung makan, seperti yang beredar di ruas jalan, ada nabas. Hal ini membuka ruang untuk meningkatkan ekonomi masyarakat,” ujar Alex.

Konsep lain dalam mendukung smart city, yakni menjadikan Kupang kota bersih. Di Kelurahan Kolhua, Bank NTT sudah menempatkan mesin pengolahan sampah. Ia pun berharap ada pendampingan dari pihak yang peduli kebersihan. “Harapannya bisa dipakai untuk kebutuhan masyarakat. Mesin itu ditempatkan dekat kantor lurah, jadi saya harap pak wali dapat menginstruksikan staf untuk dikelola oleh Karang Taruna atau pemuda gereja, masjid atau paroki yang sudah dibina dan mau kerja mengelola sampah menjadi berkat,” kata Alex.

Dukungan Bank Indonesia

Bank Indonesia menyikapi serius konsep smart city yang dicanangkan Wali Kota Kupang, Dr. Jefri Riwu Kore. Aksi nyata Bank Indonesia (BI) Perwakilan NTT dalam mendukung Kota Kupang menjadi smart city yakni perannya dalam mengontrol pertumbuhan inflasi.

Hal ini disampaikan Kepala BI Perwakilan NTT I Nyoman Ariawan Atmaja, ketika menyampaikan gagasannya dalam acara Coffee Morning “Duduk Baomong Smart City” di halaman kantor Bank NTT, Jalan W. J. Lalamentik, Jumat (2/8/2019).

Kegiatan yang diprakarsai oleh Bank NTT dan Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Kupang (Diskominfo) ini dipandu oleh Kepala Bidang e-Goverment Diskominfo Kota Kupang, Ronald Wildrian Otta, dengan menghadirkan Wali Kota Kupang Dr. Jefri Riwu Kore, Kepala OJK NTT, Robert HP Sianipar, Kepala BI Perwakilan NTT, Nyoman Ariawan Atmaja dan Ketua DPD REI NTT, Bobby Pitoby. Diskusi ini juga dihadiri puluhan peserta, termasuk pimpinan perangkat daerah lingkup Kota Kupang.

Kepala BI Perwakilan NTT, Nyoman Ariawan Atmaja mengatakan misi BI mendukung smart city tertuang dalam tiga hal, yakni mengatur kebijakan di bidang moneter, mengatur sistem pembayaran dan mengatur standar sistem keuangan. BI dalam hal ini sudah mendorong pemanfaatan teknologi informasi dalam pelayanan masyarakat. Yang sudah dilkaukan BI yaitu mendorong Gerbang Pembayaran Nasional (GPN) sebagai salah satu platform utama sehingga sistem pembyaran di Indonesia lebih murah, lebih handal dan lebih fleksibel di dalam kegiatan ekonomi.

“GPN sangat penting, ia bagaikan tubuh manusia, karena sistem pembayaran seperti darah manusia. Kalau darahnya kurang lancar maka sistem ekonomi akan bergerak lambat, tetapi kalau darahnya bagus, handal maka perekonomian juga akan bergerak maju, seiring dengan tubuh manusia, sangat penting sistem pembayaran bagi manusia. Konsep ini yang kami kemukakan untuk mendukung smart city,” ujarnya.

Motivasi kedua tentang smart city, kata Nyoman, yakni melayani masyarakat secara efektif dan efisien di seluruh sektor, baik sektor ekonomi, jasa, pendidikan maupun kesehatan. BI bisa melakukan elektronifikasi di seluruh sektor. “Contohnya semua bank sudah bisa bertransaksi antar bank, semua EDC merek apa saja bisa menggunakan kartu apa saja. Tidak ada lagi kendala dalam bertransaksi. Tidak lagi dibebankan biayanya kepada customer,” katanya.

Hal ketiga yang dilakukan BI yakni mendorong Usaha Kecil Mikro dan Menengah (UMKM) di Kota Kupang untuk masuk ke dalam ekonomi digital. “Tahun ini sudah masuk ke e-commerce. Kupang adalah target tahun ini UMKM binaan BI akan masuk ke e-commerce baik dari sisi produk maupun pemasaran dan link-nya dengan produsen,” ujar Nyoman.

Ketiga hal ini yang menjadi dorongan BI mendukung smart city yang dilaksanakan di Kota Kupang untuk mendorong segala kegiatan ekonomi menuju industri 4,0. Dengan demikian perekonomian di Kota Kupang lebih efisien dan lebih handal.

Terkait mobile banking yang disampaikan Bank NTT dalam acara tersebut akan menjadi core dalam bertransaksi. “Kita bisa bertransaksi di mana saja. Kami berharap pak wali terutama Diskominfonya bekerja sama dengan BI,” katanya.

Kerja sama yang dimaksudkan Kepala BI Perwakilan NTT ini yakni mendorong semua titik parkir dan tagihan retribusi yang ada di Kota Kupang, baik di pasar maupun rumah makan untuk dielektronifikasi, sehingga pemasukan di Kota Kupang lebih transparan. (AM/RNTT)

Show Buttons
Share On Facebook
Share On Twitter
Share On Google Plus
Share On Pinterest
Hide Buttons