KUPANG, BN – Produk olahan hasil laut dari Desa Warloka, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat mencuri perhatian publik dalam peluncuran program One Village One Product (OVOP) Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang digelar di halaman Kantor Gubernur NTT, Selasa (27/5/2025) malam.
Salah satu produk unggulan desa pesisir ini adalah stik cumi, camilan inovatif berbahan dasar daging cumi-cumi yang dicampur dengan tintanya, memberi warna hitam alami yang khas. Daging cumi kemudian dicampur tepung, gula, dan garam, lalu diolah seperti stik pada umumnya. Produk ini telah dikemas dengan baik, diberi label, dan dijual seharga Rp20 ribu per bungkus.
Fendy Jehamat, Koordinator Kabupaten dari Dinas PMD Manggarai Barat menjelaskan, ide pembuatan stik cumi berasal dari kondisi geografis Desa Warloka yang berada di pesisir, dengan mayoritas warganya berprofesi sebagai nelayan.
“Para suami melaut, sementara para ibu memanfaatkan hasil laut untuk membuat olahan seperti stik cumi, stik ikan, stik ebi, dan berbagai produk lainnya,” jelas Fendy.
Kendala utama UMKM di desa tersebut selama ini adalah pemasaran. Karena itu, Desa Warloka ditetapkan sebagai salah satu dari 44 desa lokus dalam program OVOP yang diinisiasi oleh Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena dan Wakil Gubernur Johni Asadoma.
Peluncuran program OVOP yang digelar meriah dengan tarian daerah dan peragaan busana tenun khas NTT ini menjadi simbol kebangkitan ekonomi lokal. Acara tersebut dihadiri Gubernur Melki, Wakil Gubernur Johni, Ketua DPRD NTT Emi Nomleni, Direktur IT dan Operasional Bank NTT Hilarius Minggu, Wali Kota Kupang Christian Widodo, Bupati Sumba Barat Daya Ratu Ngadu Bonu Wulla, serta unsur Forkopimda NTT.
Menariknya, seusai acara pembukaan, Gubernur Melki, Wakil Gubernur Johni, dan para pejabat lainnya menyempatkan diri mengunjungi sejumlah stan UMKM. Mereka berdialog dengan pelaku usaha, mencicipi produk lokal, dan membeli beberapa produk, termasuk stik cumi dari Desa Warloka yang langsung menarik perhatian karena tampilannya yang unik dan cita rasanya yang gurih.
Dalam sambutannya, Gubernur Melki menegaskan bahwa OVOP bukan sekadar program satu desa satu produk, melainkan gerakan transformasi sosial, ekonomi, dan budaya yang menekankan kemandirian serta kebanggaan lokal.
“Dengan OVOP, desa bukan hanya tempat tinggal, tapi pusat produksi, inovasi, dan kebangkitan ekonomi rakyat,” tegasnya.
Ia juga memperkenalkan salah satu program unggulan Pemprov NTT bertajuk “Dari Ladang dan Laut ke Pasar”, yang bertujuan menghubungkan potensi pertanian dan perikanan desa ke pasar yang lebih luas secara efisien dan berkelanjutan.
Kepala Dinas PMD NTT Viktor Manek menyampaikan bahwa ke-44 produk OVOP telah melewati proses pemetaan potensi, penilaian bahan baku, hingga legalitas dan distribusi. Ia menyebut, pendampingan dari provinsi ke depan akan difokuskan pada peningkatan kualitas produksi, kemasan, legalitas, hingga pemasaran digital.
“Pendampingan akan mencakup sertifikasi BPOM dan halal, penggunaan barcode dan QRIS, serta pelibatan perguruan tinggi untuk riset dan pengembangan produk,” jelas Viktor. (*/BN)






