Cerita Menarik Dibalik Sayembara “Ayo Bangun NTT” di Ende

Kunjungan Melki di Pesantren Walisanga EndeKUPANG, berandanusantara.com – Bangsa ini sedang kasak-kusuk dengan berbagai persoalan kekerasaan atas nama radikalisme agama dan kepercayaan. Namun, di tengah kasak-kusuk intoleransi di atas, masih ada harapan, bagai sepoi-sepoi berhembus angin kedamaian, tak jemu-jemu membawa kesejukan bagi Indonesia, dari kaki Gunung Meja, Flores, NTT.

Dari sinilah benih-benih kerukunan terus dijaga, dipelihara dan dipersembahkan kepada kepada semua anak bangsa.

Kamis (18/5/2017), diselah kegiatan sayembara AYO BANGUN NTT, Melki Laka Lena, Ketua Yayasan Tunas Muda Indonesia (YTMI) mengunjungi Pondok Pesantren Walisanga Ende yang terletak di kaki gunung  Meja, jalan Ikan Duyung (Ende Selatan) Kelurahan Tetandara, Kabupaten Ende yang menjadi salah satu lokasi yang dikunjungi oleh Melki Laka Lena.

Di tempat para santri menimba ilmu agama ini, Melki Laka Lena disuguhkan pemandangan luar biasa dan pengalaman yang sulit dilukiskan. Di kaki bukit gunung Meja, sebuah gunung berapi di tengah kota Ende, berdiri beberapa bangunan bertingkat yang menjadi tempat tinggal para santri.

Semua gedung megah ini adalah bantuan pemerintah melalui Kementerian Agama RI dan bantuan dari pihak Vatikan
Suatu hal yang unik dan mungkin satu-satunya di Indonesia, Pondok Pesantren Walisanga ini dihuni oleh para santri dengan pendidik dan pendamping yang tidak biasa yakni di antara tenaga pendidik terdapat juga satu orang calon imam Katolik, Frater Yanuarius Jemi Taful, SVD yang melakukan Tahun Orentasi Pastoral (TOP).

Menurut kepala asrama Pondok Pesantren Walisanga, sudah sejak lama mereka menjalin kerja sama dengan lembaga pendidikan calon imam Katolik yakni Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero untuk selalu memperoleh bantuan tenaga frater praktek yang berkarya selama dua tahun purna waktu di tempat itu.

“Kami selalu menjalin kerja sama yang baik dengan lembaga STFK Ledalero untuk saling berbagi. Frater James ini berada bersama para santri tanpa kehilangan identitasnya sebagai calon imam Katolik, demikian pun para santri belajar dari mereka dengan tetap menjadi seorang Islam tulen.” Urai Rusman Umar, kepala asrama Ponpes Walisanga.

Frater James, sapaan akrab Frater Yanuarius Jemi Taful, SVD, menuturkan bahwa hubungan  selama ini kerja sama antara pihak SVD dan Pondok Pesantren sangat erat. “Selama ini kalau ada makanan kurang di pondok pesantren selalu memberi bantuan beras dari atau maupun  sayuran,”ujarnya.

Melki Laka Lena sangat apresiasi hubungan antar agama yg sejak lama terbangun dengan sangat baik di Ende Flores dan NTT pada umumnya. “Inilah laboratorium kerukunan yang sesungguhnya di bumi Nusantara ini,” ujar melki. (tim)

Show Buttons
Share On Facebook
Share On Twitter
Share On Google Plus
Share On Pinterest
Hide Buttons