KUPANG, BN – Di tengah riuhnya urusan birokrasi dan dinginnya keputusan administratif, seorang perempuan muda dari pedalaman Timor Tengah Selatan menunjukkan bahwa kasih sayang dan kepedulian masih hidup.
Namanya Yusinta Ningsih Nenobahan Syarief. Seorang pengusaha muda, pendiri Yayasan Yusinta Ningsih Sejahtera (YNS), dan yang paling penting, anak dari seorang guru. Mungkin karena itu pula, hatinya langsung tergerak saat membaca kisah tentang Margarita Lusi.
Margarita bukan sekadar guru. Ia adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang selama bertahun-tahun mendidik anak-anak di ujung selatan negeri ini, di Rote Ndao. Namun, pada 1 Januari 2025, ia dipensiunkan secara mendadak oleh Pemerintah Provinsi NTT, jauh lebih cepat dari masa pensiunnya yang seharusnya jatuh pada tahun 2027.
Kisah Margarita sempat ramai di media. Ia mempertanyakan kejelasan statusnya, namun akhirnya memilih diam, menelan luka dalam. Ia tidak ingin membuat gaduh dunia pendidikan di tanah kelahirannya. “Biar saya yang terluka, tapi nama NTT jangan ikut berdarah,” katanya lirih.
Margarita bukan hanya kehilangan pekerjaan, tapi juga harus menghadapi kenyataan cicilan bank yang masih menumpuk. Dalam diam dan kebingungan itu, datang sebuah pesan: Yusinta ingin bertemu.
Lalu, pada Selasa, 22 April 2025, Margarita berangkat ke Jakarta ditemani seorang kerabat. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi, hanya tahu bahwa seseorang peduli. Dan di sana, ia disambut dengan pelukan tulus, dengan telinga yang mendengar, dan hati yang mengerti.
Pertemuan mereka singkat. Margarita hanya bercerita, tanpa meminta apa pun. Tapi sebelum pulang, Yusinta menyerahkan sebuah amplop berisi bantuan Rp25 juta. Lebih dari dua kali lipat dari yang diberikan pemerintah di akhir masa pengabdiannya.
Air mata Margarita jatuh. “Ini bukan soal nominal, tapi ini soal rasa cinta yang demikian tulus. Saya tidak kenal Ibu Ucie. Dia seperti malaikat yang dikirim Tuhan,” ucapnya terbata.
Bagi Yusinta, ini bukan tentang pencitraan. Ini tentang sebuah panggilan hati. “Saya ini murid. Ketika saya melihat ada guru yang terzolimi, maka saya merasa terpanggil. Ini bukan untuk menyerang pemerintah, ini untuk menolong,” ujarnya.
YNS bahkan berkomitmen membantu cicilan bank Margarita selama satu tahun ke depan. Tak hanya itu, Yusinta juga membuka kantor YNS di Kupang untuk menampung curahan hati para guru yang mengalami kesulitan.
“Kita tidak menyaingi pemerintah. Tapi kalau ada guru yang mengalami kesulitan, kami hadir. Karena saat kita dulu tidak bisa membaca dan menulis, ada guru yang sabar membimbing,” tutup Yusinta.
Dalam dunia yang sering kali keras dan tak adil, kisah ini mengingatkan kita bahwa masih ada murid yang tak lupa jasa gurunya. Dan kadang, satu pelukan dan sedikit keberanian bisa menjadi cahaya di tengah gelapnya nasib seorang pendidik. (*/BN)






