KUPANG, BN – Usai dilantik sebagai Direktur Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Air Minum Kota Kupang, Isidorus Lilijawa, S.Fil., M.M., langsung menegaskan sikapnya: melangkah cepat dengan strategi kolaborasi. Ia sadar betul, tantangan yang dihadapi perusahaan air minum milik daerah ini tidak sederhana.
“Ini bukan pekerjaan mudah, tapi bisa dilakukan. Saya tidak bisa berjalan sendiri, kita perlu akselerasi, percepatan, kolaborasi, dan kerja tim,” kata Isidorus usai pelantikannya di Aula Kantor Wali Kota Kupang, Senin (29/9/2025).
Pernyataan itu mencerminkan realitas Perumda Air Minum Kota Kupang yang selama bertahun-tahun berhadapan dengan problem klasik: distribusi tidak merata, keterbatasan sumber air, hingga persoalan manajemen. Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, dalam arahannya menekankan empat prioritas besar: optimalisasi sumber air, penambahan sambungan rumah, penyelesaian pengelolaan aset bersama Kabupaten Kupang, dan penataan pegawai.
SPAM Kali Dendeng
Salah satu isu mendesak yang disoroti Isidorus adalah percepatan proyek Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Kali Dendeng. Proyek ini sudah lama digadang sebagai solusi pasokan air bersih untuk Kota Kupang, namun penyelesaiannya kerap tersendat.
“Sambungan rumah masih menjadi tanggung jawab Pemerintah Kota sesuai MoU dengan Dirjen Cipta Karya. Kami akan berkomunikasi dengan Pak Wali Kota agar penambahan sambungan dan penggantian pompa bisa segera dilakukan,” tegasnya.
Jika terealisasi, SPAM Kali Dendeng diyakini dapat mengurangi keluhan pelanggan yang selama ini masih sering kesulitan mendapat air mengalir secara reguler.
Pipanisasi dan Perluasan Layanan
Isidorus juga menyoroti kebutuhan akselerasi pipanisasi. Saat ini, jangkauan layanan Perumda Air Minum belum merata. Ada wilayah yang relatif terlayani dengan baik, tetapi ada pula daerah yang hampir tidak pernah mendapat distribusi air.
Perluasan jaringan pipa dan penguatan pasokan melalui cek dam menjadi agenda berikutnya. Ini bukan hanya soal teknis, tetapi juga soal keadilan layanan. Masyarakat di semua kawasan Kota Kupang berhak mendapat akses air bersih yang layak.
Dialog Aset dengan Kabupaten Kupang
Salah satu pekerjaan rumah yang diwariskan dari masa lalu adalah persoalan aset air minum yang pengelolaannya tumpang tindih antara Kota dan Kabupaten Kupang.
Isidorus menyadari, masalah ini tidak bisa diselesaikan dengan pendekatan sepihak. Ia berencana duduk bersama Bupati Kupang dan manajemen PDAM Kabupaten Kupang untuk mencari solusi win-win. “Ini sudah terlalu lama tertunda, harus ada keberanian untuk menyelesaikan,” ujarnya.
Jika tercapai kesepakatan, hal ini akan membuka jalan bagi pemanfaatan aset bersama yang lebih produktif, sekaligus menutup potensi konflik kelembagaan.
Penataan Pegawai
Di balik semua rencana eksternal, Isidorus menekankan pentingnya pembenahan internal. Dengan sekitar 80 karyawan, Perumda Air Minum Kota Kupang memerlukan tata kelola yang rapi, profesional, dan berorientasi pelayanan.
“Sebelum melakukan hal-hal besar ke luar, kami perlu membenahi internal lebih dahulu,” katanya.
Penataan sumber daya manusia bukan hanya soal jumlah, tetapi juga kapasitas dan integritas. Baginya, pelayanan prima hanya bisa lahir dari organisasi yang sehat di dalam.
Dari keseluruhan strategi yang ditawarkan, satu hal yang paling sering diulang Isidorus adalah kolaborasi. Ia menyadari bahwa memperbaiki pelayanan air minum bukan hanya urusan manajemen Perumda, melainkan juga membutuhkan dukungan pemerintah daerah, masyarakat, dan bahkan pemerintah pusat.
“Kami akan bergerak bersama, tidak ada yang bekerja sendiri. Dengan dukungan semua pihak, saya yakin pelayanan air minum bagi masyarakat Kota Kupang bisa meningkat signifikan,” pungkasnya. (*/BN)






