KUPANG, BN — Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menggelar upacara peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) pada 2 Mei 2026 di halaman Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT. Upacara berlangsung khidmat dan diikuti oleh berbagai unsur penting, mulai dari jajaran pemerintah daerah hingga insan pendidikan dari berbagai jenjang.
Hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Gubernur NTT Johni Asadoma, Ketua DPRD NTT Emelia Nomleni, unsur Forkopimda, wakil ketua TP PKK Provinsi NTT, para staf ahli gubernur, pimpinan perangkat daerah lingkup Pemprov NTT, kepala sekolah SMA/SMK, tokoh pendidikan, guru, serta para pelajar yang disebut sebagai generasi “anak-anak Indonesia hebat”.
Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena bertindak sebagai inspektur upacara, sementara Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT Ambrosius Kodo memimpin jalannya upacara. Dalam amanat yang dibacakan, ditegaskan bahwa pendidikan merupakan proses fundamental dalam membentuk kehidupan bangsa, bukan sekadar transfer pengetahuan, tetapi juga pembangunan karakter dan peradaban.
Nilai-nilai pendidikan yang dirintis oleh Ki Hajar Dewantara kembali ditekankan, khususnya konsep sistem among yang mengedepankan kasih sayang, pembinaan, dan pendampingan dalam mendidik peserta didik. Pendidikan, sebagaimana diamanatkan dalam konstitusi dan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional, dipahami sebagai proses menumbuhkan seluruh potensi manusia agar menjadi pribadi yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, cerdas, terampil, mandiri, serta bertanggung jawab.
Pemerintah juga menegaskan bahwa arah pembangunan pendidikan saat ini selaras dengan visi nasional di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, yang menempatkan pendidikan sebagai fondasi utama dalam membangun sumber daya manusia unggul, kuat, dan berdaya saing demi mewujudkan Indonesia maju, makmur, dan bermartabat.
Dalam amanat tersebut, disampaikan pula bahwa Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah telah menetapkan pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning) sebagai program prioritas. Pendekatan ini menjadi bagian dari upaya besar untuk meningkatkan kualitas pendidikan nasional sekaligus mencapai tujuan pendidikan yang lebih holistik.
Berbagai langkah strategis telah dijalankan untuk mendukung kebijakan tersebut. Di antaranya pembangunan dan revitalisasi sarana serta prasarana pendidikan guna menciptakan lingkungan belajar yang nyaman dan memadai. Pada tahun 2025, program ini telah menyasar lebih dari 16 ribu satuan pendidikan. Selain itu, digitalisasi pembelajaran juga diperkuat melalui distribusi papan interaktif digital ke lebih dari 288 ribu satuan pendidikan di seluruh Indonesia.
Pemerintah juga memberikan perhatian serius terhadap peningkatan kualitas dan kesejahteraan guru sebagai kunci utama keberhasilan pendidikan. Program beasiswa sebesar Rp3 juta per semester diberikan kepada guru yang belum memiliki kualifikasi pendidikan S1 atau D4.
Pada tahun 2025, beasiswa ini dialokasikan untuk 12.500 guru, dan meningkat signifikan pada tahun berikutnya dengan target hingga 150 ribu guru. Selain itu, guru juga mendapatkan pelatihan dalam berbagai bidang seperti pembelajaran mendalam, bimbingan konseling, coding, kepemimpinan sekolah, dan bahasa Inggris. Di sisi lain, kesejahteraan guru ditingkatkan melalui sertifikasi dengan tunjangan yang kini ditransfer langsung setiap bulan, serta pemberian insentif bagi guru honorer.
Upaya penguatan karakter peserta didik juga menjadi perhatian utama melalui penciptaan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan inklusif, baik secara fisik, sosial, maupun spiritual. Sekolah diharapkan menjadi ruang yang menyenangkan dan mampu menjadi “rumah kedua” bagi peserta didik.
Berbagai program pembiasaan positif terus didorong, termasuk kegiatan kepramukaan, upacara bendera, serta pembentukan karakter melalui pengalaman belajar yang menanamkan nilai toleransi, gotong royong, dan saling menghormati.
Di sisi lain, peningkatan kualitas pembelajaran juga difokuskan pada penguatan bidang sains, teknologi, engineering, dan matematika (STEM), serta penerapan tes kemampuan akademik sebagai alat ukur sekaligus dasar intervensi peningkatan mutu pendidikan.
Berbagai kegiatan ekstrakurikuler seperti olahraga dan lomba akademik juga terus didorong guna mengembangkan bakat dan minat siswa. Pemerintah turut memastikan akses pendidikan yang lebih luas dan merata melalui berbagai model layanan, seperti sekolah satu atap, pendidikan jarak jauh, sekolah terbuka, serta komunitas belajar.
Perhatian khusus juga diberikan kepada anak berkebutuhan khusus melalui penguatan pendidikan inklusi dan sekolah luar biasa berbasis masyarakat.
Dalam sambutan tambahannya, Gubernur Melki menekankan bahwa pendidikan di NTT harus berfokus pada tiga aspek utama, yakni kemampuan akademik yang baik, karakter moral yang kuat, serta jiwa kewirausahaan.
Menurutnya, generasi muda NTT tidak hanya dituntut cerdas secara intelektual, tetapi juga harus memiliki integritas dan kemampuan mengelola potensi sumber daya daerah secara mandiri. “Anak-anak kita harus memiliki akademik yang baik, karakter yang kuat, dan juga kemampuan berwirausaha agar mampu mengelola potensi daerah serta bersaing di masa depan,” tegasnya.
Ia juga menekankan bahwa pembangunan pendidikan tidak dapat berjalan sendiri tanpa dukungan semua pihak. Kolaborasi antara pemerintah, sekolah, keluarga, masyarakat, dan dunia usaha menjadi kunci dalam menciptakan ekosistem pendidikan yang kuat dan berkelanjutan. (*/BN)






