
Sejak pesan moralitas pemimpin dalam Pilkada dibicarakan oleh Romo Benny Susestyo melalui salah satu Media Online nasional, banyak tanggapan beragam muncul, terutama di media sosial. Ada yang menerima pikiran tersebut secara rasional, ada juga yang miris melihat isu ini dibicarakan saat kontestasi Pilgub NTT sementara berjalan.
Lalu, yang menjadi pertanyaan adalah Pentingkah Moralitas Pemimpin di NTT? Sebelum masuk inti pembahasan, perlu dilihat initisari kutipan Romo Benny Susestyo di bawah ini;
“Dalam politik, moralitas merupakan sesuatu yang sangat penting. Karena sudah semestinya, seorang pemimpin itu harus bisa menjadi contoh, panutan dan teladan bagi rakyatnya. Karena itu, seorang pemimpin tidak boleh cacat moral dan cacat perilaku.”
Pemikiran Romo Benny tersebut dapat dikatakan adalah pemikiran umum. Level sekelas pelajar sekalipun paham betul tentang itu. Artinya, bahwa apa yang dikatakan Romo Benny sebenarnya sangat rasional sebagai bentuk kritik sekaligus saran tentang idealnya seorang pemimpin, tak terkecuali di NTT.
Mengapa demikian? Jawabannya sangat sederhana. Ya memang penting. Analoginya sederhana, apabila pemimpin itu dianggap sebagai orang tua, atau orang yang dituakan, ataupun sebagai guru. Pemimpin pastinya akan menjadi contoh. Ketika anak diajarkan tentang 1 + 1 = 3, maka anak itu akan ingat bahwa hasil hitungan itu ya 3.
Padahal sebenarnya hasil yang tepat dengan hitungan tersebut salah. Yang benar hasilnya bukan 3, tetapi 2. Artinya, seorang pemimpin akan menjadi contoh bagi siapapun yang dipimpinnya. Apa yang diajarkannya terkadang menjadi sugesti yang kuat dan sangat mempengaruhi.
Dan pada akhirnya, sejumlah Tokoh Agama atau Rohaniwan pun ikut bicar soal ini. Ketua Sinode Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT), Nusa Tenggara Timur (NTT), Merry Kolimon misalnya. Seperti dilansir media nttterkini.com, Pendeta Merry mengatakan calon pemimpin harus memiliki aspek moralitas dan etika yang baik.
Menurut Merry Kolimon, kepemimpinan yang bermoral atau pemimpin yang bermoral, merupakan sebuah hal yang sangat penting karena berkaitan dengan keteladanan, bukan sekedar mengerjakan administrasi kepemerintahan saja. Namun juga mampu memimpin warga dengan visi bangsa sesuai dengan undang-undang dan nilai pancasila yang erat hubungannya dengan aspek moralitas, sikap hidup dan keteladanan yang baik.
Memang Merry Kolimon menekankan juga bahwa dalam konteks Pilkada, tidak memilih pemimpin yang sempurna, tetapi menjadi sebuah harapan yang besar akan moralitas yang bisa disesuaikan, dengan standar moral dan harapan masyarakat luas.
Sama halnya dengan ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), Abdul Kadir Makarim, seperti yang dimuat di media ini, yakni menjadi seorang pemimpin harus memiliki moral yang baik, sehingga bisa menjadi panutan bagi lingkungan dan masyarakat yang dipimpinnya.
Tidak hanya ketua MUI, pandangan yang sama juga datang dari Ketua Gerakan Pemuda (GP) Ansor, Abdul Muis. Dalam pandangannya, moralitas menjadi sebuah ukuran utama pemimpin di NTT. Karena, kalau tidak punya moral, berarti tidak punya teladan bagi masyarakat.
Pandangan rasional sejumlah tokoh tentang moralitas itu bisa menjadi acuan dan menambah referensi bagi masyarakat NTT. Namun, dalam konteks memilih semua kembali ke hati nurani masing-masing. Apakah moral itu penting bagi pemimpi di NTT? Silahkan berpikir sebelum menentukan pilihan.
Redaksi berandanusantara.com.






