Christian Widodo–Serena Francis Wujudkan Dana Gawat Darurat: “No One Left Behind”

  • Whatsapp
Sosialisasi Dana Pengaman Kegawatdaruratan di RSUD SK Lerik. (Foto: istimewa)

KUPANG, BN — Satu nyawa warga Kota Kupang terlalu berharga untuk dipertaruhkan hanya karena persoalan biaya atau urusan administrasi. Keyakinan itulah yang dipegang teguh Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, sejak pertama memutuskan terjun dalam gelanggang politik. Baginya, seorang pemimpin harus hadir di detik paling genting ketika warganya berjuang antara hidup dan mati.

Maka di 100 hari kerja Pemerintahan Chris–Serena, janji itu diwujudkan. Pemerintah Kota Kupang resmi meluncurkan Dana Pengamanan Kegawatdaruratan: sebuah skema pembiayaan kesehatan yang memastikan warga Kota Kupang langsung ditangani tanpa ditanya biaya ketika mengalami kondisi gawat darurat, termasuk kecelakaan.

Read More

Peluncuran program ini dilaksanakan di Puskesmas Sikumana pada Juni lalu, dan disambut antusias ratusan masyarakat serta tenaga kesehatan. Dana tersebut ditempatkan langsung pada RSUD S.K. Lerik, sebagai rumah sakit rujukan utama kegawatdaruratan di Kota Kupang.

Wali Kota Chris Widodo menegaskan bahwa hak atas kesehatan adalah hak dasar setiap manusia. Tidak boleh ada sekat biaya, apalagi prosedur, yang menghalangi tindakan penyelamatan nyawa.

“Saya tidak mau ada satupun warga Kota yang tidak tersentuh pelayanan kesehatan dengan alasan biaya,” tegas Wali Kota Widodo.

“Jika datang dalam kondisi gawat, wajib hukumnya diberi tindakan cepat. No One Left Behind. Ini cara saya mencintai warga Kota Kupang.”

Untuk tahap awal, Pemkot menyiapkan alokasi Rp3 miliar. Dana ini akan langsung ditambah apabila mendekati habis pemakaiannya. Tidak hanya untuk pasien tanpa BPJS, kebijakan ini juga menjangkau mereka yang tidak memiliki kartu identitas karena situasi darurat tertentu.

Chris menambahkan, kebijakan ini merupakan hasil perenungan mendalam dirinya sebagai dokter yang pernah berdiri lama di ruang UGD, berhadapan langsung dengan dilema nyawa dan biaya.

“Dalam bahasa Latin: contemplata aliis tradere: perenungan harus diwujudkan dalam tindakan,” ujarnya.

Launching dana kegawatdaruratan ini juga disatukan dengan sosialisasi Sistem Informasi Rawat Inap (SIRANAP). Sistem ini memastikan pasien tidak lagi berpacu dengan waktu dan kebingungan mencari rumah sakit yang memiliki ketersediaan kamar.

Melalui sistem tersebut, warga dapat mengecek ketersediaan tempat tidur di rumah sakit hanya dari ponsel.

“Sering orang masuk kondisi kritis tapi harus putar-putar cari kamar kosong. Itu menyakitkan.

Dengan SIRANAP, dari rumah saja bisa tahu kamar mana yang siap. Tinggal langsung meluncur ke sana,” jelas Chris Widodo.

Ia memastikan, SIRANAP bukan hanya meningkatkan efisiensi rumah sakit, tetapi juga membantu memangkas waktu tunggu dan meninggikan kepuasan publik terhadap layanan kesehatan.

Program Dana Kegawatdaruratan dan penerapan SIRANAP menjadi bukti bahwa Chris–Serena bekerja cepat dan tepat pada sektor yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat. Langkah strategis ini menegaskan arah pembangunan kesehatan yang humanis dan progresif.

“Kami ingin memastikan masyarakat Kota Kupang mendapatkan pelayanan yang berkualitas, cepat, dan terjangkau. Pemerintah hadir saat warga membutuhkan,” tutup Chris Widodo.

Dengan hadirnya terobosan ini, Kota Kupang bergerak menuju babak baru pelayanan kesehatan: tidak ada warga yang dibiarkan sendirian saat hidupnya dipertaruhkan.

Kebijakan Dana Kegawatdaruratan ini mendapat respon positif dari warga. Salah satunya Maria Talan, warga Kelurahan Sikumana, yang hadir dalam launching program tersebut.

“Kami selama ini sering dengar cerita orang datang darurat tapi harus tunggu karena belum urus BPJS. Itu menyakitkan sekali. Dengan program ini, kami merasa lebih aman. Pemerintah akhirnya hadir di saat kami benar-benar butuh,” ujarnya dengan mata berbinar.

Hal serupa disampaikan Yohanes Benga, seorang pengemudi ojek yang mengaku kerap melihat langsung kecelakaan lalu lintas di jalan raya.

“Kadang orang jatuh parah, tapi keluarga bingung soal biaya dan kamar rumah sakit. Sekarang tidak ada lagi alasan sakit dibiarkan. Ini kebijakan yang menyentuh hati kami rakyat kecil,” katanya.

Sementara Novianti Ledo, ibu rumah tangga muda yang memiliki balita, menilai kebijakan ini melindungi keluarga kecil seperti dirinya.

“Sebagai ibu, saya takut kalau anak mendadak sakit di malam hari. Dengan ini, saya dan banyak ibu lain bisa sedikit lega. Terima kasih Pak Dokter Chris sudah pikirkan kami,” ungkapnya. (*/Andyos Manu/Advertorial)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *